Langsung ke konten utama

Spiritualitas Gamelan

Dalam kosmologi Jawa kuno dikatakan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat roh dan jiwa yang mengalunkan irama harmonis, sejalan dengan irama alam semesta. 
SEBALIKNYA, alam semesta juga memancarkan irama yang bisa ditangkap oleh kepekaan rasa manusia. Rasa ini biasanya diungkapkan melalui nada-nada gamelan.

Pengalaman spiritual dan pesan dari alam semesta yang tidak terbatas hanya mungkin diungkap melalui seni gamelan yang tak terbatas, tidak dengan kata-kata atau bahasa yang terbatas. Bahasa dengan logikanya membatasi pengalaman, sementara seni gamelan sebaliknya, membebaskan sebebas-bebasnya.  

Lewat nada-nada musik hasil transformasi dari irama alam tersebut manusia melakukan perenungan spiritual. Gamelan menjadi alat bantu untuk meditasi. Nada-nada gamelan bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa, spirit kehidupan, musik Ilahiyah, bahasa pertama yang menjadi pangkal pokok kehidupan.

Spiritulitas gamelan ini lah yang tidak dimiliki oleh instument musik dari manapun. Karena spiritualitas yang dibawa oleh gamelan bukan spiritualitas artifisial yang dibawa oleh musik-musik modern. Para pendengarnya hanya merasakan sensasi ketenangan jiwa beberapa saat. 

Dalam gamelan, spiritualitas yang diperdengarkan muncul sendiri melalui rasa para pendengarnya, kemudian masuk ke dalam hati dan meresap menjadi iman yang meliuk-liuk.

Suara gamelan menembus dinding-dinding yang menyekat manusia dari Tuhannya. Nada gamelan menembus batas agama, etnis dan budaya. Sehingga gamelan dalam puncak spiritualitasnya akan mengafirmasi pluralisme budaya, agama dan realitas pada umumnya.

Cendikiawan penyebar ajaran Islam abad 15-an, seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga tahu persis akan hal ini. Dan karena kecerdasan merekalah dan wali-wali yang lain, gamelan dan wayang digunakan sebagai media untuk mengislamkan orang-orang Jawa. Bukan Islam yang tak berkonteks tapi Islam yang tumbuh dan berkembang dalam tanah dan air Nusantara.[Kang Och]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cirebon: Potret Bhinneka Tunggal Ika

Cirebon   merupakan daerah yang dihuni banyak etnis, agama, keyakinan, bahasa, ideologi, dan sebagainya. Dilihat dari sejarahnya, masyarakat di daerah ini memang dikenal beragam. Cirebon, dengan begitu, adalah cermin dari karakter masyarakat Nusantara yang bineka.  PERBEDAAN menjadi hal lumrah bahkan menjadi modal untuk mencapai kesejahteraan bersama. Meski dalam perkembangan banyak gerakan-gerakan radikal, Cirebon hari ini masih menunjukkan wajahnya yang toleran. Banyak orang bertanya kepada saya tentang asal kata Cirebon. Banyak pula sumber yang memberikan jawaban bahwa Cirebon berasal dari ‘cai’ dan ‘rebon’ yang berarti ‘air’ dan ‘udang kecil-kecil’. Tapi menurut hemat saya, yang lebih tepat adalah apa disebutkan dalam naskah  Purwaka Caruban Nagari . Dalam naskah tersebut dikatakan, Cirebon berasal dari kata ‘caruban’ atau ‘sarumban’ yang berarti campuran. Penduduk Cirebon adalah campuran berbagai bangsa, penduduknya beragam. Pengarang naskah  Purwaka ...

Panjang Jimat Bersama Nabi

Perayaan peringatan hari lahir Nabi Muhammad lazim disebut Muludan. Di keraton Cirebon, puncak Muludan dilambangkan dengan sebuah prosesi  yang disebut 'Panjang Jimat'. SEBUAH ritual simbolik dramatisasi alegoris lahirnya Nabi Muhammad saw. Sebuah lakon yang menggambarkan kebahagian yang tak bisa dikatakan. Ya, sebuah ekspresi kebahagiaan lahirnya seorang Nabi yang membawa perubahan besar dalam sejarah kehidupan manusia. 'Panjang Jimat' sendiri ada yang mengatakan merupakan benda pusaka utama berupa piring keramik Tiongkok yang berhias tulisan-simetris kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Pada malam kelahiran Nabi, di setiap 12 Rabiulawal, pada puncak acara Grebeg-Mulud, benda-benda pusaka tersebut diarak dalam sebuah prosesi, upacara Panjang Jimat. Sumber yang lain mengatakan kata ‘panjang’ dapat diartikan sebagai ‘tak berhenti’ dan ‘jimat’ berarti ‘siji kang dirumat’ atau ‘satu hal yang dipertahankan’. Panjang Jimat, dengan begitu adalah simbol...